Rabu, 14 September 2016

Ada Ibadah Haji Tandingan di Karbala Oleh Kaum Syiah, Benarkah? Ini Penjelasannya..

Seiring dengan memanasnya kembali hubungan Iran dengan Arab Saudi terkait pelaksanaan ibadah haji, umat Islam mazhab Ahlul Bait atau lebih dikenal dengan nama Syiah belakangan tampak menjadi bulan-bulanan beberapa media Arab.
Selanjutnya, ulah media itu menjadi bahan bagi kaum intoleran di media sosial dan lain-lain untuk menebar fitnah dan ujaran kebencian terhadap umat Muslim Syiah yang sebenarnya jumlahnya sangat besar di dunia, yaitu sekitar 300 juta, dan tersebar di banyak negara, termasuk Arab Saudi, meskipun di Indonesia jumlahnya sangat kecil.
isu-haji-ke-karbala3
Tak kurang, beberapa media Arab itu menebar berita hoax bahwa umat Islam Syiah menggelar wukuf bukannya di Padang Arafah, Arab Saudi, melainkan di kota Karbala, Irak, tempat Imam Husain ra, cucunda Nabi saw, dimakamkan.
Channel Sky News Arabia yang merupakan salah satu corong Saudi  dan dioperasikan dengan dana para juragan Uni Emirat Arab menyebutkan bahwa satu juta Muslim Syiah dari Iran masuk ke Irak untuk mengadakan wukuf di Karbala sebagai tandingan untuk wukuf jemaah haji dari pelbagai penjuru dunia yang berlangsung di Arafah.
Diisukan bahwa hal itu dilakukan berdasarkan fatwa Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei karena tahun ini Iran tidak dapat mengirim jemaah hajinya ke tanah suci Mekkah akibat kontroversinya dengan Arab Saudi yang dipicu oleh tragedi Mina pada musim haji tahun 2015.isu-haji-ke-karbala
Laporan Sky News Arabia ini kemudian diamini oleh surat kabar Asharq al-Awsat yang juga merupakan media Arab Saudi.  “Bukannya ke Mekkah, Teheran mengerahkan 1 juta ‘haji’ ke Karbala,” tulis Asharq al-Awsat dalam judul beritanya.
Surat kabar ini juga menyebutkan bahwa Iran sendiri yang tahun ini tak mau mengirim warganya ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.
Berita mengenai adanya fatwa pemindahan ibadah haji itu dimuat pula oleh media Israel Jerusalem Center for Public Affairs.
Di Indonesia, TV Indosiar tampak tak mau ketinggalan menebar berita tak berdasar itu pada program Fokus Pagi. Salah satu stasiun TV nasional ini juga ikut menyebutkan bahwa wukuf di Karbala dihadiri oleh jutaan umat Muslim Syiah.
isu-haji-ke-karbala2 Berita hoax itu dibantah oleh Kedutaan Besar (Kedubes) Iran di Kuwait. Kedubes ini menyatakan sama sekali tidak ada fatwa dari Ayatullah Khamenei bahwa pelaksanaan ibadah haji dipindah dari Mekkah ke Karbala.
“Tidak ada fatwa yang memerintahkan pemindahan pelaksanaan ibadah haji ke makam Imam Hussein di Karbala sebagai pengganti di Mekkah. Klaim seperti itu adalah bohong belaka,” bunyi statemen Kedutaan Iran di Kuwait, seperti dikutip laman Satuislam, Selasa (13/9/2016).
Kantor Seksi Kepentingan (Interes Section) Iran di Kairo, Mesir, juga menepis keras laporan media Saudi tersebut.
“Fatwa demikian sama sekali tidak pernah keluar, baik tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya. Masalah ini tidak benar; palsu dan kedustaan belaka,” ungkap kantor ini, sebagaimana dilansir laman berita berbahasa Persia, Ilna, Minggu (11/9/2016).
Sembari menegaskan bahwa kewajiban haji merupakan salah satu syiar Islam dan pelaksanaannya merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang berkemampuan, kantor ini menegaskan, “Pemerintah Republik Islam Iran melalui proses teknis dan non-politik telah mengerahkan segenap upayanya agar warga Muslim Iran dapat menunaikan kewajiban hajinya pada tahun ini. Tapi sayang, pihak Saudi bersikeras mempolitisasi kewajiban agama ini.”
Kantor ini menjelaskan, “Perlakuan Saudi sepenuhnya bersifat politis. Saudi tak becus menjalankan tanggungjawabnya sebagai tuan rumah bagi Haramain al-Syarifain, menyusupkan kontroversi politik dalam kewajiban agama ini, dan alih-alih memberikan jawaban yang memuaskan, mereka malah mengerahkan mesin propaganda dan medianya dengan kaca mata politik dan tak fair untuk terus berusaha mengesankan Iran sebagai pihak yang salah.”
Kantor ini juga menjelaskan, “Ketidak becusan Saudi dan ketidak amanan yang mereka paksakan terhadap para jemaah haji, dan kesengajaan mereka untuk mencari gara-gara telah menjadi faktor utama dan hakiki ketidak hadiran warga Muslim Iran dalam manasik haji tahun ini. ”
Sehari sbelumnya, kantor berita ABNA yang berbasis di Iran menyayangkan tindakan Indosiar dan Portal Piyungan karena di hari raya Idul Adha justru telah menebar berita hoax dan fitnah belaka terkait isu wukuf kaum Syiah di Karbala, dan absennya jamaah dari Iran pada pelaksanaan haji tahun ini, justru dimanfaatkan untuk menyebar fitnah dan menyudutkan Iran.
Kaum Muslim Syiah tampak tak menyangka bahwa salah satu tradisinya yang berjalan turun temurun, yaitu pembacaan Doa Arafah yang biasanya dilakukan secara bersama di tempat terbuka, terutama di sekitar tempat-tempat yang mereka sucikan, kali ini ternyata dimanfaatkan sebagai bahan fitnah oleh kaum intoleran karena kebetulan doa itu memang bernama Doa Arafah dan biasa dibaca pada setiap hari Arafah, yaitu ketika para jemaah haji berwukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, atau sehari menjelang Idul Adha.
Tradisi pembacaan Doa Arafah yang biasanya diikuti oleh ribuan jamaah berlangsung bukan hanya di komplek makam Imam Husain ra di Karbala, melainkan juga di masjid-masjid , musholla, dan di manapun, terutama makam-makam tokoh besar, termasuk makam Imam Ali bin Abi Thalib ra di Najaf, Irak, dan makam Imam Ali Ridha ra di Masyhad, Iran.
Teks doa ini sangat panjang dan biasa dibaca selama lebih dari satu jam. Doa ini dalam riwayat Syiah disebutkan telah dibaca oleh Imam Husain ra di Padang Arafah dengan menghadap Kaabah sembari menengadahkan tangan seperti seorang fakir miskin yang lapar dan meminta makanan. Karena riwayat doa ini berasal dari Imam Husain ra, praktis kaum Syiah merasa menemukan kepuasan tersendiri apabila doa itu dibaca di komplek makam Imam Husain di Karbala, jika tak dapat membacanya di Padang Arafah seperti yang dilakukan oleh Imam Husain ra sendiri.doa-arafah
Rupanya, pembacaan Doa Arafah ini tiba-tiba secara serampangan disebut wukuf atau haji oleh kalangan intoleran, padahal jika mau dicek ke semua kitab atau tulisan apapun karya para ulama Syiah klasik maupun kontemporer, tidak akan pernah ditemukan satupun keterangan bahwa kewajiban ibadah haji dapat ditunaikan di tempat selain tanah suci Mekkah al-Mukarramah.  Tak ada pula ulama dan tokoh Syiah yang pernah berpidato atau berfatwa bahwa ibadah haji dapat diselenggarakan di luar kota suci Mekkah.
Dalam tradisi Syiah, berziarah ke makam imam dan ulama besar memang sangat kuat dan dianjurkan. Namun demikian, di mata mereka, sebanyak apapun orang berziarah tetap saja tidak akan dapat menggugurkan kewajiban beribadah haji ke tanah suci Mekkah bagi mereka yang berkemampuan, sesuai perintah Allah SWT dalam kitab suci al-Quran, antara lain  surat Ali Imraan [3]: 96-97, dan surat al-Baqarah ayat 196 – 197. (mm)

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Ada Ibadah Haji Tandingan di Karbala Oleh Kaum Syiah, Benarkah? Ini Penjelasannya..

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar