Kamis, 08 September 2016

Para Suami Baca Ini, Inilah Kisah Nyata Penyesalan Sang Suami Kepada Istri, Anda Pasti Menangis Setelah Membacanya.

pernikahan merupakan impian setiap pasangan kekasih yang saling menyanyangi dan juga mencintai, menikah juga merupakan  ibadah dan menyempurnakan separuh agama. Berikut mari kita simak kisah nyata sepasang suami istri yang mengharukan ini.

Nina dan Herman adalah sepasang suami istri yang telah menjalani hubungan pacaran selama 10 tahun lamanya. Akhirnya mereka menikah dan menjalani bahtera rumah tangga sebagaimana orang lainnya. Pada tahun pertama, kedua dan ketiga, kisah cinta ini begitu manis. Apalagi keduanya dikaruniai seorang putra bernama Lilo. Tahun keempat rumah tangga Nina dan Herman mulai terasa agak berat. Mengasuh dan mendidik anak menjadi hal yang harus mereka pelajari bersama. Namun berbekal dukungan orang tua serta rasa cinta mereka, apapun selalu ada solusinya dan mereka bisa melewati masa sulit tersebut.
Beberapa tahun berlalu hingga Lilo sudah menginjak kelas 4 sekolah dasar. Mengasuh satu anak hingga sebesar ini rupanya membuat Herman ingin mempunyai anak lagi. Namun Nina agak menolak, dengan alasan masih ingin mengecek ke dokter perihal kondisinya.
Namun kondisi ini beberapa kali terjadi hingga setengah tahun lamanya. Membuat Herman sedikit berpaling dari Nina. Apalagi di kantor, ada seorang sekretaris baru yang membuat Herman merasa nyaman bernama Jenny. Sedikit demi sedikit Jenny mulai menguasai pikiran serta hidup Herman. Membuatnya jarang pulang tepat waktu dan membuat Nina heran.
“Kok sering pulang telat, Mas?” tanya Nina.
“Lembur..” Herman menjawab pendek sambil mengganti pakaiannya. Ia sebenarnya masih mencintai Nina, namun di sisi lain ia makin dekat dengan Jenny. Ia merasa hubungannya dengan Nina hambar serta membosankan akhir-akhir ini. Kali ini bukan dikarenakan Nina menolak punya anak lagi, namun kesibukan Nina dan Herman membuat pria ini merasa jarak mereka makin jauh dan Nina seolah tidak melihat hal itu sama sekali.
Kehidupan pernikahan Nina dan Herman makin menjenuhkan. Nina makin bekerja keras dalam karirnya sehingga fokusnya seringkali hanya pada anak dan juga karir. Nina memang lebih pendiam setelah Lilo masuk sekolah, tetapi Herman pikir mungkin hal ini disebabkan oleh keperluan anak mereka yang makin banyak. namun sebenarnya Nina menyimpan rahasia yang agak dalam, sebab ia tidak mau suaminya sampai bersedih. Ia benar-benar sangat menjaga perasaan suaminya. Sesekali hubungan Nina dan Herman menegang oleh pertengkaran-pertengkaran kecil. Herman sering pulang malam dan Nina mulai curiga dengan apa yang dilakukan Herman di luar rumah.
“Aku kerja. Aku kan juga nggak pernah protes saat kamu pulang malam, Nina,” kata Herman dengan nada tinggi.
“Kamu berubah, Mas. Kerja juga nggak mungkin pulang malam terus kan?” Nina membalas.
Herman mendengus sebal dan menyahut, “Kamu tanya saja sendiri pada dirimu, kenapa aku jadi nggak betah. Kamu terlalu sibuk dengan karirmu, aku juga bisa kalau begini caranya.” Ia sebenarnya sakit mengucapkan hal ini pada Nina. Namun emosinya sudah lama tertahan dan kali ini ia merasa muak pada omelan istrinya.
Jenny juga mulai berani mempengaruhi Herman untuk menceraikan istrinya. Awalnya Herman ragu, namun makin sering ia dan Nina bertengkar di belakang anaknya. Hal ini mulai membuat Herman merasa tidak nyaman. Ia pun mulai menyampaikan keinginannya kepada nina untuk bercerai. Tentu saja hal ini membuat Nina hancur setengah mati. Ia menolak perceraian itu sebab tidak ingin Lilo merasakan keluarga yang retak dan tentu saja perceraian ialah hal yang sangat dibenci Allah SWT.
Namun Herman makin menghancurkan hatinya sebab menyodorkan surat pengajuan cerai beberapa hari setelah ia menyampaikan keinginannya itu. Semalaman Nina memandangi surat cerai terhampar di meja kerjanya, sementara Herman tidur dengan tidak nyenyak di ranjangnya. Keesokan paginya, Nina menyerahkan surat itu pada Herman dengan mata sembab sebab sesekali Ia berdoa sambil menangis meminta petunjuk kepada Allah SWT, hingga belum tidur semalaman. Ia berfikir tidak ada gunanya ia marah ataupun kecewa, sebab tugas seorang istri dalam Islam ialah untuk mentaati suaminya dan mencoba bersabar dengan segala ujian yang diberikannya.

Ia sadar betul sesungguhnya Allah-lah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Allah memberikan petunjuk kepada yang Dia kehendaki ataupun juga menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki, seperti firman Allah:
    ” Sesungguhnya kamu tidak akan
dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash : 56)
“Aku akan menandatanganinya setelah 30 hari. Dalam 30 hari itu, aku ingin Mas selalu menggendong aku dari ranjang ke meja makan untuk sarapan setiap pagi. Juga dari ruang keluarga ke kamar tidur setiap malam,” ujar Nina dengan suara setengah serak seperti orang yang semalaman belum tidur.
Herman agak aneh dengan permintaan istrinya, namun ia tetap menyanggupi permintaan itu. Ia pikir istrinya hanya ingin mengulur waktu cerai dan juga membuat Herman kembali. Mendengar cerita itu, Jenny sedikit menertawai ulah Nina. “Ada-ada saja. Setelah kondisi seperti ini, baru istrimu merajuk untuk bisa kembali.”
Begitulah, sesuai janjinya, Herman selalu menggendong Nina setiap pagi dan malam. Ia dapat merasakan Nina lebih bersandar padanya, namun di sisi lain Herman berpikir bahwa Nina mungkin juga sedang menikmati momen-momen akhir bersamanya. Sebentar lagi Herman tetap akan menceraikannya lalu membawa Jenny dalam kehidupan barunya.
Pemandangan romantis antara Nina dan Herman membuat Lilo kadang bersorak pada kedua orang tuanya itu. “Wah, papa mama romantis banget,” ujarnya girang. Hal ini membuat Herman sedikit berbesar hati., namun ia meneguhkan dirinya agar tidak mudah termakan suasana Sementara Nina hanya tersenyum penuh makna sambil bergelayut di leher suaminya saat digendong.
Diam-diam, Herman merasa istrinya makin kurus dari hari ke hari. Setiap hari gendongannya terasa makin ringan. Herman memandangi wajah istrinya sesekali saat menggendongnya sembari mengecup keningnya. Nina nampak lelah belakangan ini, kantung matanya sering kelihatan membesar dan ia sering menyandarkan kepalanya ke dada Herman. Hal ini membuat Herman mulai ragu dengan keputusannya bercerai, ada kehangatan merasuk di dadanya setiap kali menggendong Nina.
Tanpa terasa, Herman mulai merasakan cinta kembali bersemi pada hubungannya dengan Nina. Ia merasa istrinya makin cantik dari hari ke hari, hingga hari-hari penandatanganan surat cerai itu makin dekat. Saat Herman hendak menggendong Nina di pagi hari ke 31, Nina menahan tangan Herman.
“Kan hari ini sudah lewat. Kamu nggak perlu gendong aku lagi, Mas.” Herman tersenyum saja dan membawa Nina ke meja makan. Ia menyajikan sarapan lalu mengecup kening Nina, “Sarapan aja, Nina. Selamat pagi.” Begitulah Nina dan Herman menghabiskan sarapan mereka dengan lebih hangat dan mesra. Namun di akhir sesi sarapan, Nina memberikan surat cerai yang sudah ditandatangani dan dibungkus amplop.
“Ini, Mas. Terima kasih selama ini sudah mencintaiku,” ujarnya sambil menitikkan air mata. Herman terpana, namun surat itu diterimanya kemudian sebelum berangkat ke kantor, Herman memeluk Nina.
Di kantor, Herman mengatakan pada Jenny bahwa ia mengurungkan niatnya bercerai. Tentu saja wanita itu begitu kesal dan menampar herman keras-keras. Herman tahu dengan konsekwensi ini, ia siap menerimanya sebab sejauh ini ia dan Jenny belum sampai berhubungan badan. Ia bersyukur masih bisa mengendalikan dirinya selama ini dari berzina.
Sekarang yang ada di benaknya ialah Nina. Ia masih ingat dengan bulir air mata Nina yang hangat jatuh di tangannya tadi pagi. Herman merasakan cinta itu dan tidak sabar ingin segera pulang. Ia bahkan menyempatkan diri membeli buket bunga paling indah kesukaan Nina dan bergegas pulang sore itu.
Sesampainya di rumah, Herman memanggil-manggil nama istrinya. Namun ia tidak juga mendengar jawaban. Hingga ia melihat Nina di kamarnya, tidur dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya tadi pagi. Namun saat Herman mendekatinya, Nina sudah tidak bernyawa lagi. Herman tidak percaya, bagaimana mungkin Nina bisa meninggal? Ia menggoncang-goncang tubuh dan wajah Nina sambil memanggil namanya.
Kepergian Nina menjadi penyesalan yang tidak terperi bagi Herman. Rupanya selama ini Nina mengidap penyakit parah yang tidak sempat disampaikannya pada Herman. Di kala istrinya itu tengah memikirkan sendirian serta berjuang melawan penyakitnya, Herman malah sibuk dengan rencana perceraian mereka. Nina dimakamkan keesokan harinya, diiringi rasa sedih dan duka dari Herman dan putra mereka, Lilo.
    “Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Nya ialah Dia menciptakan pasangan–pasangan bagi kalian dari jenis kalian, agar kalian merasa tenang pada pasangan kalian dan Dia menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang dan cinta. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda – tanda bagi orang-orang yang berfikir.”(QS. Ar-Ruum: 21)
Demikian kisah menyedihkan sepasang suami istri. Semoga dengan adanya kisah ini dapat memberi inspirasi setiap pasangan suami istri dan menjadikan rumah tangga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Aamiin

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Para Suami Baca Ini, Inilah Kisah Nyata Penyesalan Sang Suami Kepada Istri, Anda Pasti Menangis Setelah Membacanya.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar