Senin, 26 September 2016

YANG MERASA DIRINYA UMMAT MUSLIM BACA INI........!!! Kisah Adzan Terakhir Bilal dan Banjir Air Mata Warga Madinah,,, TOLONG BAGIKAN YA

Ini yaitu kisah Nada Adzan Bilal serta Tangisan masyarakat Madinah, tersebut kisah muadzin Nabi, bilal Bin Rabbah :

Selesai Rasul meninggal, Bilal bin Rabbah, malas mengumandangkan adzan lagi. Bahkan juga, keinginan Sayyidina Abu Bakar ketika itu, ia tolak. Dengan rasa sedih mendalam Bilal berkata : “Biarkan saya cuma jadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah sudah tidak ada, jadi saya bukan muadzin siapa-siapa lagi. ”
Rasa sedih Bilal ditinggal wafatnya Rasulullah tak dapat hilang dari sanubarinya. Ia mengambil keputusan hijrah, meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islami untuk hijrah ke negeri Syam. Bilal tinggal di Kota Homs, Suriah.



Bertahun-tahun tinggalkan Madinah. Bilal cemas apabila masih di Madinah tidak dapat melupakan masa lalu manis bersama manusia paling mulia di bumi, Rasulullah. Hal semacam itu bakal merobek-robek hatinya. Sampai satu saat, ia punya mimpi berjumpa Rasulullah. Dalam mimpinya, Rasul bersabda dengan nada lembutnya, “Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa hingga seperti ini? “

Bilal terbangun dari tidurnya. Tanpa fikir panjang, ia mempersiapkan perjalanan kembali pada Madinah. Ia berniat ziarah ke makam Rasulullah sesudah demikian th.
lamanya meninggalkan Madinah. Di makam Rasulullah, tangis rindunya pecah. Kecintaan serta kerinduannya pada Rasul membuncah.
Waktu itu, ada dua pemuda yang mengamatinya. Mereka cucu Rasulullah, Sayyidina Hasan serta Husein. Keduanya mendekati Bilal serta berkata : “Duhai paman, maukah engkau mengumandangkan adzan lagi. Sekali saja, buat kami. Kami menginginkan kembali kenang kakek kami. ”
Sayyidina Umar bin Khattab, yang lihat mereka, mendekat. Ia juga memohon Bilal mengumandangkan adzan lagi. Walau cuma sekali. Bilal juga bersedia. Waktu mengumandangkan lafadz “Allahu Akbar”, tiba-tiba, semua Madinah senyap. Semua kesibukan serta perdagangan berhenti. Kebanyakan orang sontak terkaget, lantunan adzan yang dirindukan bertahun-tahun kembali terdengar syahdunya.

Saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, masyarakat Kota Madinah berhambur dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi. Bahkan juga diceritakan beberapa gadis dalam pingitan juga turut berlarian keluar tempat tinggal mendekati asal nada adzan yang dirindukan tersebut .
Puncaknya, waktu Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah dengan ledak tangis serta ratapan pilu, teringat Rasulullah di saat lantas. Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar paling keras.

Bahkan juga Bilal yang mengumandangkan adzan tersedu-sedu dalam tangis, hatinya teriiris, lidahnya tercekat, air matanya tidak henti mengalir. Bilal juga tak mampu melanjutkan adzannya, ia tidak henti terisak, tidak dapat lagi mengumandangkan meneruskan panggilan mulia itu.
Hari itu, Madinah kembali mengenang saat waktu Rasulullah masih ada. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama serta terakhirnya mulai sejak kepergian Rasulullah. Adzan yang tidak dapat dirampungkannya. Cerita ini tercatat dalam satu diantara peristiwa tinta emas dunia islam.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar