Jumat, 18 November 2016

Heboh, Ini Anak Bilang Yang Bangun Masid Istiqlal Ahok !! Nyinyir Dengan Aksi Bela Islam 4 Nov, Megawati Di ‘Skak Mat’ Netizen !!

Gak tahu anak ini lahir kapan da dimana , kok bisa-bisanya bilang kalau yang bangun Masjis Istiqlal itu Ahok...
Heeemmmm
Ngelus dodo.....

Mungkin ini upaya penggebosan aksi umay Islam 4 november, seperti yang dilalukan oleh Megawati Soekarno Putri...

 
Rupanya, Ketua Umum PDIP merasa gerah dengan akan adanya Aksi Bela Islam pada 4 November 2016 nanti. Hal itu disampaikan Megawati pada acara ‘Pelatihan Mubaligh Kebangsaan Baitul Muslimin, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2016).
“Kita diharuskan mencintai semua makhluk. Kok sekarang seperti itu banyak isu SARA. Islam kok gitu, siapa yang ngajari? Urusan memilih pemimpin kok dikorelasikan dengan agama dan ras. Ini tidak lucu kalau diteruskan,” ujar Megawati, seperti dilansir Detik.com
Megawati menilai rencana unjuk rasa yang akan dilakukan tanggal 4 November nanti akan mengancam persatuan Indonesia. Karena menurutnya Bhineka Tunggal Ika adalah hal yang yang harus di kedepankan dalam falsafah kebangsaan.
“Saya belajar, kalau ada manusia yang kulitnya kuning, itu kan dari asal muasal dua orang, Adam dan Hawa. Lalu kalau kulitnya hitam, cokelat, bermata biru seperti di Aceh apa kita salahkan? Ini ciptaan Allah SWT. Jangan membedakan,” tegasnya.
Presiden ke-5 RI ini khawatir dampak dari aksi demonstrasi tersebut akan meluas seperti yang terjadi di Timur Tengah. Pihaknya mndorong masalah terkait Pilgub DKI ini tidak dibesar-besarkan.
“Islam harus Islam yang benar. Indonesia kaum yang mencintai kaum-kaum yang lain. Kita harus megayomi. Saya tidak membela China, saya membela NKRI yang saya cintai. Pemilu sudah ada dari dari tahun 1955 pemilu itu. Lho kok sekarang hanya satu orang ribut setengah jagat. Kita harus memilih,” jelasnya, seperti dikutip dari detik.com.
Terkait dengan pernyataan nyinyir Megawati kepada Aksi Bela Islam 4 Nov mendatang, netizen membalasnya dengan jurus maut. Berikut beberapa pernyataan ‘skak mat’ netizen kepada anak Soekarno itu.
“Ha ha jadi geli dengerny emang pikir bu mega lebih paham soal islam dr pd ulama2 d indonesia…ck ck emang hebat bner bu mega ni,” komen @hrs_agusha.
“Sendirinya aja engga tutup aurat, ISLAM KAYA GITU SIAPA YG NGAJARI ?? NGACA!!!” komen @wellykeling3.
“Ngomong Alloh Subhana wa ta’ala aja ga becus, situ Islam apa !” sindir netizen @siam_soe, mengingatkan saat Mega pidato di Rakernas PDIP.
Nah, komentar netizen yang terakhir sangat mengena sekali. Pasalnya, Megawati pernah kedapatan gagap mengucapkan Alloh Subhana wa ta’ala pada acara sakral Rakernas PDIP. Peristiwa aneh itu pun diabadikan dalam betuk video oleh media massa.
Berikut videonya.

Sumber : http://pekanews.com/2016/10/nyinyir-dengan-aksi-bela-islam-4-nov-megawati-di-skak-mat-netizen/
Barakallah...
Hati-hati semua umat muslim yang sedang perjalanan kejakarta untuk aksi 4 November besok

Semoga Allah karuniakan keberkahan dan pahala yang melimpah bagi siapa yang memperjuangkan agama Allah.....
Alhamdulillah denger dari salah satu kawan ternyata beberapa ormas yg melarang jamaahnya untuk tidak ikut di aksi 4 November
Mereka gak menggubris dan memilih bergabung dengan aksi 4 November besok

Mereka tanggalkan seragam ormasnya dan bergabung dengan kaum muslimin yang lain......

Berikut Seruan Lengkap Prof. Yusril Soal Aksi Bela Islam 4 November

Rencana demo pada 4 November mendatang kian massif terdengar dan dibicarakan. Bahkan di sejumlah daerah juga sudah melakukan aksi “pemanasan.” Demo terkait dengan dugaan penisataan agama yang dilakukan Basuki Thahaja Purnama ini menuai pandangan dari sejumlah elit.
Inilah pandagangan pakar hukum tatangera yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, terkait dengan aksi tersebut:
Demo besar yang direncanakan 4 November tidak perlu ada jika negara menegakkan hukum dengan keadilan dan kepastian. Rencana demo dipicu oleh ucapan Gubernur DKI yang dianggap umat Islam dan dikuatkan MUI sebagai penistaan terhadap Islam. Karena aparat penegak hukum kurang sigap, bahkan dianggap cenderung melindungi Ahok, maka timbullah tekanan agar Ahok segera diperiksa, bahkan ditangkap.

Tapi yang terjadi, Ahok malah datang ke Bareskrim bukan karena dipanggil untuk diperiksa, tetapi atas inisiatifnya sendiri untuk memberi klarifikasi. Inisiatif seperti itu tak dikenal dalam hukum acara.
Penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok, dilakukan menjelang kampanye Pilkada DKI. Ini semua menjadi akumulasi ketersinggungan dan kemarahan sebagian umat Islam yang karena ucapan-ucapan Ahok sebelumnya yang juga sering menyinggung agama secara tidak pada tempatnya. Namun akumulasi kejengkelan ini dapat pula dimanfaatkan untuk beragam kepentingan politik sesaat yang berada di luar agenda kepentingan umat Islam.
Ahok memang sudah minta maaf. Tapi dengan gaya bahasa Ahok yang khas, permohonan maafnya dinilai kurang tulus.  Ahok tidak merasa bersalah, apalagi menyesal atas ucapannya. Seperti dikatakannya, Ahok minta maaf karena ucapannya menimbulkan kegaduhan, bukan mengaku salah dan menyesal atas ucapannya. Permintaan maaf seperti itu tidak meredakan kejengkelan. Eskalasi kejengkelan malah makin besar.
Demonstrasi menuntut sesuatu adalah hak setiap orang. Sepanjang demontrasi dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum yang berlaku, demo adalah sah. Namun untuk menghadapi seorang Ahok, haruskah ada demo mengerahkan sejuta umat?
Mungkin jika Ahok hanya sendirian, dia tidak ada apa-apanya. Tetapi, diduga ada kekuatan besar dibalik Ahok, yang tidak dapat ditembus dengan himbauan dan permintaan, melainkan harus melalui tekanan unjuk rasa besar-besaran dengan segala risiko yang mungkin terjadi.
Demo Besar 4 November kini tak dapat dihindari lagi. Maka saya mengajak, marilah kita sama-sama menjaga demo ini agar tidak berubah menjadi kerusuhan dan tidak kekerasan yang pasti akan merugikan kepentingan bangsa kita seluruhnya. Aparat keamanan juga harus bersikap ekstra hati-hati. Jangan sampai ada korban tertembak dalam demo ini. Ingat peristiwa 1966 dan 1998.
Demo besar ini tentu akan membuang banyak tenaga, waktu dan biaya. Umat Islam seperti telah kehilangan kekuatan politik  yang efektif untuk mendesakkan tuntutan,  kecuali  dengan unjuk rasa. Energi terbuang begitu besar hanya karena menuntut agar Ahok diperiksa, ditangkap dan diadili. Jika saja Presiden menggunakan kewibawaan yang ada pada dirinya, dia mengemukakan komitmen untuk menuntaskan masalah hukum terkait dengan dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.
Tentu Presiden dapat mempertimbangkan secara bijak untuk mencegah agar pemeriksaan Ahok tidak dimanfaatkan untuk menguntungkan dua pasang pesaingnya dalam Pilkada.  Pilkada tetap harus dilaksanakan secara jujur dan adil bagi semua kontestan.
Pada sisi lain bagi Ahok sendiri, masih ada waktu bagi dirinya untuk meminta maaf dengan tulus kepada umat Islam dengan cara mengakui kesalahan atas ucapannya terkait dengan Al-Qur’an Surah Al Maidah ayat 51. Ahok harus berjanji akan mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh agar dapat memamahi pikiran dan perasaan umat Islam, karena dia hidup di tengah-tengah mayoritas umat Islam  di negara ini.
Jika Ahok bersedia mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh bukan mustahil dia akan tertarik memeluk Islam dengan kesadarannya sendiri. Ahok bisa saja seperti Arnoud van Doorn, politisi Partai Kebebasan di Belanda, yang ikut membuat Film “Fitna” yang menghebohkan karena menista Islam, akhirnya sukarela memeluk Islam setelah mempelajari Islam dengan seksama.
Islam adalah agama besar dunia, agama Rahmatan lil ‘Alamin, agama rahmat bagi alam semesta, yang sudah 15 abad menyinari peradaban dunia. Islam yang besar ini takkan goyah hanya karena  nistaan yang dianggap dilakukan seorang Ahok. Ahok terlalu kecil untuk merendahkan kebesaran Islam.
Akhirnya hukum memang harus ditegakkan. Tetapi jika Ahok memohon maaf dengan tulus, umat Islam, pada hemat saya, tentu akan membukakan pintu maaf. Bukankah Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kita manusia hendaknya akan membuka pintu maaf kepada siapa saja yang memintanya dengan tulus. (

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar